Sabtu, 29 Oktober 2011

Kemunculan Manusia bercambuk: Rencana besar

Langsung saja ya...
Ini adalah cerita yang ada bau-bau daerah negara lain (baca : Jepang) ...
selamat membaca :)
------------------------------------------------------------------------------------


Siang itu cukup cerah dalam sebuah daerah yang cukup damai dan tenang …

Ada seorang wanita dengan pakaian mikoo sedang menyapu. Kemudian muncul seorang wanita dengan pakaian penyihir dari langit dengan mengendarai sapu terbangnya.

“Hai, Reimu. Apakah tugasmu membersihkan kuil sudah selesai?” Tanya penyihir itu kepada wanita yang sedang menyapu yang bernama Reimu.
“Belum, Marisa. Sebentar lagi selesai. Memangnya kenapa?” Tanya Reimu kepada temannya yang mengenakan pakaian penyihir yang ternyata bernama Marisa.
“Sebenarnya tidak ada yang terlalu penting, sih. Aku hanya mau mengajakmu jalan-jalan menyusuri Human village daripada Cuma duduk-dudukan disekitar sini.” Kata Marisa mengajak Reimu pergi.
“Kurasa aku sedang tidak ingin jalan-jalan.” Jawab Reimu singkat masih sambil menyapu.
“Kenapa?” Tanya Marisa. Sepertinya ia agak bosan melihat kawasan tersebut.
“Tidak apa-apa. Hanya malas keluar saja.” Jawab Reimu singkat. “Lagipula untuk apa jalan-jalan ke pasar?”
“Ayolah, Reimu. Aku hanya ingin memeriksa daerah ini. Mungkin di pasar ada masalah, mungkin?” Tanya Marisa membujuk.
“Tapi aku kan sedang membersihkan kuil ...” Tolak Reimu dengan singkat karena ia sedang menyapu.
“Kalau begitu, akan kutunggu tugasmu sampai selesai.” Kata Marisa langsung menunggu Reimu diatas sapu terbangnya.
“Tapi kalau sampai sore, gimana?” Tanya Reimu mencoba untuk mengusir kawannya.
“Tetap akan kutunggu.” Jawab Marisa singkat.

Maka Marisapun menunggu Reimu menyelesaikan tugasnya sambil berputar-putar disekitar kuil. Ia juga sempat menawarkan bantuannya menyelesaikan tugas kawannya supaya dia tidak mengalami kebosanan. Tetapi Reimu menolak dengan halus.

Ternyata tanpa sadar Reimu sudah selesai mengerjakan tugasnya membersihkan kuil.

“Nah, itu sudah selesai tugasmu. Ayo kita menuju pemukiman manusia.” Kata Marisa langsung mengamit lengan Reimu.
Reimu yang tak kuasa menolak permintaan Marisa, segera membereskan peralatannya dan mengikuti Marisa yang sudah terbang hampir agak jauh.

Mereka akhirnya terbang meninggalkan kuil. Tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang dengan kamera mengambil gambar mereka tanpa diketahui oleh mereka.
“Sepertinya bakalan seru untuk bahan berita di koran esok hari, nih.” Kata seorang wanita dengan kameranya sambil bersembunyi di balik semak belukar.

Mereka kini telah sampai di pemukiman Manusia. Lalu mereka segera menuju pasar di pemukiman manusia.
Namun beberapa langkah sebelum mereka memasuki pasar, mereka melihat dua orang pemuda.
Sepertinya mereka biasa saja melihat pemuda tersebut karena mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang berlalu-lalang disekitar situ. Tetapi seorang pemuda yang memiliki rambut pendek dengan sebuah jabul kecil yang terletak pada dahinya, tetapi rambut didekat telinganya sangat panjang, sampai-sampai mendekati kumisnya yang sangat tipis, tetapi terlihat agak jelas – bila diperhatikan dengan cermat –, mengenakan jaket berwarna hitam dan sebuah tas punggung telah menarik perhatian mereka berdua. Bagi mereka itu merupakan pemandangan yang agak aneh karena baru kali ini mereka melihat manusia dengan pakaian yang sebegitu menariknya. Biasanya orang-orang yang berada disitu tidak mengenakan pakaian yang digunakan oleh pemuda yang mereka anggap unik.

Segera saja mereka mencoba berpapasan dengan pemuda tersebut, tetapi tidak menyapa pemuda itu. Tetapi Pemuda itu tahu kalau ada dua wanita yang tidak ia kenal memperhatikan dirinya. Begitu mereka berpapasan, pemuda itu langsung menyapa mereka.

“Hai, nona.” Sapa pemuda tersebut dengan nada ramah. Kedua wanita tersebut jadi agak terkejut. Tetapi mereka dengan sigap menjawab, “Hai juga.”
“Hei, di. Kau tahu siapa mereka?” Kata teman pemuda berjaket tersebut setelah mereka cukup jauh dari kedua wanita tersebut.
“Memangnya kau tahu, siapa mereka?” Tanya pemuda berjaket tersebut balik bertanya.

Tiba-tiba saja, pemuda yang memiliki rambut agak berponi dengan ujungnya bercabang 4, dimana ada sedikit jambul terbelah tiga pada rambutnya, berpakaian seperti seorang samurai dengan warna pakaiannya adalah warna hitam kemerahan, serta sebuah kain berwarna kuning totol-totol yang melingkari lehernya menghentikan langkah temannya.

“Kau ini kenapa?” Tanya pemuda berjaket kepada temannya.
“Tidak. Aku Cuma...”
“Cuma apa?” Tanya pemuda berjaket memotong kalimat temannya.
“Ah, tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan perjalanan kita.” Kata kawan berjaket tersebut.
“Kau ini aneh.” Kata pemuda tersebut.

Para pemuda tersebut kembali berjalan meninggalkan pasar.

“Hei, Reimu.” Kata Marisa kepada Reimu begitu mereka sudah memasuki pasar.
“Kenapa, Marisa?” Tanya Reimu.
“Mereka tadi orang baru bukan disini?” Tanya Marisa sambil melihat-lihat isi pasar. Tampak pasar tersebut cukup menarik dan sebagai satu-satunya tempat untuk belanja bagi manusia di kawasan tersebut.
“Kalau pemuda berjaket tadi memang baru. Kalau kawan disebelahnya bukan. Dia sudah cukup lama tinggal disini.” Kata Reimu menjelaskan.
“Tapi kok teman berjaket itu baru aku lihat? Padahal dia sendiri sudah lama tinggal disini.” Kata Marisa berpikir.
“Yah, mungkin karena kau sibuk mengurus tokomu, makanya kau tidak melihat keadaan.” Timpal Reimu.

Kini Reimu sudah membawa beberapa barang belanjaan yang ia beli.

“Mungkin juga kali ya...” Kata Marisa kini ikut berbelanja.
Setelah mereka selesai belanja, mereka kini berada di rumah Reimu.

“Aku pergi dahulu ya untuk menaruh barang belanjaanku dirumahku.” Kata Marisa kini terbang meninggalkan Reimu sendirian.
“Kurasa aku juga perlu membereskan beberapa barang belanjaan yang baru saja aku beli.” Kini setelah ia membereskan barang belanjaannya, dia mendengar sebuah suara dari luar.
“Reimu... Kau ada dirumah, tidak?” Teriak sebuah suara yang oleh Reimu tidak asing lagi ia dengar.
“Ada apa ya? Kenapa Marisa balik begitu cepat...” Gumam Reimu kini menyambut kawannya.

Ternyata Marisa memberikan sebuah laporan bahwa telah terjadi sebuah pertarungan

“Di mana, Marissa?” Tanya Reimu setelah mendengar informasi tersebut.
“Di jalan antara pasar dengan sungai.” Kata Marisa di perjalanan. Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di tujuan.

Tamapak daerah pertarungan tersebut tidak mengalami tanda-tanda kerusakan.
“Apa yang terjadi?” Tanya Reimu kepada salah seorang peri yang mengerumuni daerah tersebut.
“Tadi, ada seorang pemuda yang bertarung dengan cirno.” Jawab peri tersebut.
“Cirno? Sekarang di mana peri tersebut?” Tanya Marisa.
“Itu. Sedang disembuhkan” Peri tersebut menunjuk sebuah pohon yang kini dikerumuni oleh beberapa peri.

Setelah mereka mendekat, mereka melihat apa yang terjadi kepada Cirno. Cirno tampak tidak terluka. Pakaiannya utuh dan ia tidak ada tanda-tanda robekan. Tetapi mereka mengetahui kalau Cirno seperti lumpuh.
“Cirno, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa begini?” Tanya Reimu.
“Jadi, sebenarnya begini ...” Seorang menjawab pertanyaan Reimu.
“Bukan kamu. Yang kami Tanya adalah Cirno.” Kata Marisa agak membentak.
“Sudahlah, Marissa. Lagipula kita perlu beberapa keterangan yang kita butuhkan.” Jawab Reimu langsung menengahi.
“Cirno, apa yang terjadi?” Tanya Reimu langsung memberikan pertanyaan.
“Jadi ceritanya begini ...” Lalu Cirno bercerita.

Saat itu Ada seorang pemuda berjaket dan temannya yang bernama Tetsumi Nobuzura sedang bercakap-cakap ketika Cirno sedang bermain-main di sebuah danau. Kemudian Cirno mendengarkan percakapan mereka berdua karena ia sudah capek bermain-main dengan teman-temannya

“Ini nama daerahnya adalah ‘Gensokyo’.” Kata Tetsumi. “Disini kamu akan menemukan makhluk-makhluk yang belum pernah kau lihat sebelumnya.” Jelasnya.
“O iya? Seperti apa maksudmu?” Tanya pendatang baru tersebut tampak bingung.
"Kamu lihat saja sekitarmu ..." Kata Tetsumi.


Pemuda berjaket itu menatap sekelilingnya. Ia melihat beberapa makhluk seperti peri, makhluk beraneka bentuk, dan lain sebagainya sedang berlalu-lalang dihadapan mereka.


"Mereka itu tidak ada ya dalam dunia kita..." Pemuda itu berdecak kagum.
"Jelas."
"Kalau begitu mereka itu makhluk fiksi dong ..."

“Hai, anak muda, Kami ini nyata lho! Bukan fiksi.” Seru Cirno kepada kedua pemuda yang sedang bercakap-cakap dibelakangnya.
“Hei hei hei. Tenanglah, Cirno. Janganlah kau membuat keributan disini.” Jawab salah seorang peri mencoba melerai pertarungan antara Cirno dengan pemuda yang baru mereka kenal.
“Tapi, walau bagaimanapun, dia kelihatannya menggangap kita tidak ada…” Bela Cirno sambil mencari pendukung.
“Yaa… Biarkan aja, Cirno. Begitu saja kok repot… ” Jawab peri yang lain.
“Hei, anak muda!” Seru cirno kepada pendatang baru. “Kata siapa kami tidak ada? Dari luar ya? Padahal jelas-jelas kami ada. Ini buktinya!” Jelas Cirno tidak mengindahkan peringatan teman-temannya.
“Ya ampun. Cirno berulah! Aku tidak ikut-ikutan ah …” Kata peri yang pura-pura tidak tanggung jawab tetapi ingin menonton pertarungan yang cukup seru.
“Jangan. Nanti bisa pemuda tersebut dibekukan oleh Cirno.” Kata peri yang ingin melerai keributan yang akan terjadi hanya karena salah paham.
“Sudah, sudah. Biarkan saja mereka ribut.” Kata peri yang lain tak mau kalah.
“Iya. Kami mau lihat.” Balas peri yang lain mendukung dua temannya.
“Terserah kalian sajalah. Tapi jangan salahkan kalau bakal ada masalah yang lebih besar.” Kata peri yang tidak ingin keributan semakin besar mulai mengalah.
“Terus, kenapa kamu tidak mendengarkan kata-kata temanmu?” Potong Marissa ketika Cirno sedang bercerita.
“Waktu itu aku terlalu terbawa suasana. Apalagi mereka juga ikut mendukungku, makanya kuladeni mereka …” Kata Cirno sambil menunduk malu bercampur sedih.
“Terus, bagaimana ceritanya?” Tanya Reimu ingin mendengar cerita Cirno.
“O, iya … Jadi saat itu pemuda berjaket itu mencoba berdamai …” Cirno melanjutkan ceritanya.
 “Jadi, begini nona… Saya tahunya hanya dari luar, jadi maafkan saya ya.” Kata pendatang baru tersebut mencoba berdamai.
“Hmm…boleh. Tapi kamu harus sembah sujud dahulu sambil menyatakan ‘Maaf, aku salah. Mohon ampuni aku.’.” Kata Cirno dengan angkuh.
“Wah, kalau begitu caranya ya….Aku tidak mau. Terlalu merendahkan, mending saya begini saja…” Kata pendatang baru tersebut seraya memperagakan cara menurutnya.

Kemudian pemuda itu mendekati Cirno. Setelah cukup dekat, dia bertekuk lutut. Kemudian pemuda tersebut mengatakan “maafkan aku, Nona.” Kata pemuda tersebut sambil mengulurkan tangannya kearah Cirno.

Seketika pemandangan jadi terlihat romantis. Semua orang yang melihat kejadian tersebut selain pemuda tersebut jadi menggangga. Tetsumi mendadak menjadi patung batu mengangga. Cirno juga ikut-ikutan mengangga. Teman-temannya Cirno juga ikut-ikutan menggangga. Ada yang mengangga sampai-sampai kemasukan lalatpun tak terasa. Ada yang mengangga, kemudian ia jatuh terguling-guling. Ada yang ngangga, kemudian memilih untuk menepi menjauhi adegan mesra tersebut. Pada kejauhan tertentu, peri tersebut bersuit pertanda menyoraki Cirno.

“IIIHH….SUDI AMAT AKU MAU MENERIMA MAAFKU DENGAN CARAMU!” Bentak Cirno.
“Hai anak muda! Rasakan seranganku!” Teriaknya sambil melempar sebuah batu es yang sudah dibuatnya.

Tetapi, yang terjadi lebih mengejutkan lagi dari apa yang ada.

Seharusnya serangan itu tepat di wajah pendatang baru tersebut. Namun justru es tersebut terlempar jauh mengarah ke Tetsumi. Tetsumi yang menyadari arah es tersebut menuju dirinya, langsung gulang-guling menghindari es tersebut.

Kontan semua yang hadir disitu menjadi tambah menggangga, terlebih Cirno yang mendadak menjadi sebuah patung es yang menggangga.

Kemudian, Cirno langsung menyerang pemuda yang sama sekali tak bergerak dari tempatnya dengan kecepatan tinggi.

Namun yang berikutnya justru membuat siapapun berpikir dua kali sebelum menyerang.

Seharusnya serangan Cirno sudah pasti membuat siapapun jatuh berguling-guling. Tetapi hanya sedikit bergesernya tubuh pemuda tersebut, membuat serangan tersebut meleset mejauhi sasaran.

Sekarang pemuda tersebut berkata, “Sudahlah, Sayang. Jangan dilanjutkan. Nanti yang berikutnya kamu bisa terluka, lho…” kata pemuda tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya.

Sekarang Cirno merasa dirinya dilecehkan. Kemudian ia menyerang lagi. Sasarannya adalah langsung ke jantung pemuda tersebut. Namun serangan yang kedua justru meleset jauh karena pemuda tersebut hanya menggeser tubuhnya dari serangan Cirno.

Kemudian pemuda tersebut berkata, “Kok kepada tamu begini? Kalau begitu, kamu kubuat diam ya.” Kata pemuda tersebut dengan nada merayu. Lalu pemuda tersebut bergerak dari tempatnya berdiri sambil menyentuh beberapa bagian tubuh Cirno dengan kedua jarinya.

Langsung saja Cirno menjauhi pemuda tersebut. Tetapi yang terjadi berikutnya membuat tubuhnya melemah dan kemudian dia jatuh terjembab.

“Hai, pemuda kurang ajar! Apa yang kau lakukan kepadaku?” Teriak Cirno seraya mencoba mengangkat kepalanya menatap pemuda tersebut.
“Tenang saja, nona. Itu kubuat lumpuh dirimu. Tidak akan bertahan lama. Nanti akan kembali seperti biasa setelah kami pergi dari sini.” Kata pemuda tersebut. Kemudian pemuda tersebut berteriak kepada Tetsumi, “hai, Tetsumi. Mari kita pergi!” Katanya kepada Tetsumi.
“Ba..baiklah, di…” Tetsumi menjawab sambil membawa koper serta tas punggung milik pemuda tersebut. Lalu mereka meneruskan perjalanan.

Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh, pemuda tersebut berkata, “Maafkan kami, Nona. Bila Anda merasa tidak puas, datangi Tetsumi!” Teriak pemuda tersebut seraya meninggalkan medan pertempuran.


“Jadi, begitulah ceritanya.” Kata Cirno mengakhiri ceritanya.
“Jadi, begitu ya… Kami sudah dapat informasi yang kami perlukan. Terimakasih Cirno.” Kata Reimu kini terbang disusul oleh Marissa.

Lalu seorang peri yang mengingatkan jangan ada keributan mengatakan, “Jangan coba-coba lagi deh sama pendatang baru. Itu baru salah satu akibatnya…”
“Diam kamu. Apa kamu tidak kasihan melihat Cirno begitu? Mari kita angkat dia…” Bentak peri yang lain.
“Tidak, terimakasih. Sekarang aku bisa jalan sendiri.” Kata Cirno menolak bantuan teman-temannya. Kemudian ia berkata, “Mari kita lanjutkan permainan…” Kata Cirno.
“Yakin kamu tidak apa-apa? Kami siap membawamu ke rumahmu…” Tawar salah seorang peri meyakinkan Cirno.
“Tidak, terimakasih. Ayo, mari kita lanjutkan kegiatan yang tadi tertunda…” Kata Cirno.

Maka yang lainpun kembali bermain-main sampai puas. Sementara Cirno menepi, membiarkan yang lain bermain-main. Ia kemudian duduk-dudukan, sembari mengumpulkan tenaganya. Namun ia melihat seseorang datang bertanya, “Kenapa kamu, Cirno? Sepertinya kamu habis bertarung…”
“Iya, tadi aku sempat bertarung sama orang baru, Ya…” Kata Cirno kepada Aya.
“Terus? Kalah atau menang?” Tanya Aya sembari mencatatnya dalam sebuah buku.
“Mmm… Anu… Aku…”
“Dia kalah!” Kata salah seorang peri yang tadi mencoba melerai pertengkaran.
“Ssst, Diam!” Bentak salah seorang peri yang lain.
“Terus, terus kalahnya kenapa?” Tanya Aya kepada peri yang tadi menjawabnya.
“Karena Cuma disentuh beberapa bagian di tubuhnya.” Jelas peri tersebut.
“Lalu, siapa lawannya?” Tanya Aya sambil menulisnya di bukunya.

Lalu peri yang menjawab pertanyaan Aya memberikan gambaran pemuda baru tersebut lengkap dengan temannya, Tetsumi. “Bahkan kalau ada yang kurang puas, bisa mendatangi Tetsumi.” Jawab peri yang habis diwawancarai tersebut menirukan perkataan pemuda pendatang yang aneh itu.

“Hmm… Menarik. Terimakasih.” Katanya sambil kembali terbang ke tempatnya.

“Hei, kenapa kamu kasih informasi tersebut? Bukankah…”

“Sudah, sudah. Biarkan saja. Lagian aku juga ingin membuat sebuah ‘kejutan’ kecil kepadanya.” Kata Cirno sambil tersenyum. Senyum yang penuh arti.

Sekarang Cirno merasa dia mampu melakukan apapun seperti biasa.

Sementara itu, Tetsumi dan pemuda tersebut sampai di sebuah bangunan abad pertengahan.

“Ini rumahku. Selamat datang di rumahku!” kata Tetsumi.
Kemudian mereka masuk. “Permisi.” Kata pendatang baru tersebut. “Siapa saja orang didalam rumahmu, Tet?”
“Cuma Aku do…”
“Eeehh, Tetsumi. Kamu bawa orang lain ya. Selamat datang dirumah Tetsumi.” Kata seorang wanita tiba-tiba saja muncul dari kanan menuju pintu masuk menjawab pertanyaan pemuda tersebut. Wanita itu membungkukkan badannya.
“Itu siapa?” Tanya pemuda tersebut.
“Ini…Istriku…” Jawab Tetsumi malu-malu.
“Say, kenalkan. Ini Adi. Di, kenalkan. Ini istriku.” Kata Tetsumi membuka percakapan.
“Adi.”
“Sinta.”
“Mari, mari lewat sini.” Kata istri Tetsumi memberikan jalan kepada Adi.

Sesaat pemuda tersebut –yang ternyata bernama Adi- melihat-lihat rumah Tetsumi dari pintu masuk.
Tampak dari depan, dari kirinya ada 5 buah pintu. 2 pintu disisi kiri, 2 pintu disisi kanan, dan ditengahnya terdapat 1 pintu.

Dari kanan, ada pintu berjumlah 4. Di kiri ada 2, di kanan ada 1, dan ditengah 1.
Lalu mereka menuju ke kiri, ke arah pintu pertama di sebelah kiri.

Kemudian mereka sampai di ruang tamu.
Sesaat Adi melihat ruang tamunya.

Di sudut kiri dari pintu samping tempatnya berdiri terlihat sebuah rak buku-buku. Diatas dinding ada sebuah tulisan kaligrafi. Di hadapannya ada sebuah meja beserta sebuah jendela. Di sudut kanan ada sebuah tulisan kaligrafi dan sebuah pintu ke tempat lain.

“Mari, mari. Silahkan duduk.” Kata istri Tetsumi mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Terimakasih.” Jawab Adi.
“Jadi, mau minum apaan?”
“Kalau bisa, air bening saja.” Kata Adi lalu kembali berbicara kepada Tetsumi. “Kira-kira apa rencana kita nanti?”
“Sepertinya kami disini sudah siap dengan beberapa hal, Cuma kami kekurangan orang sepertimu.” Kata Tetsumi.
“Memangnya masalah seperti apa sampai-sampai perlu orang sepertiku?” Tanya Adi.
“Kami hanya perlu orang sepertimu. Kau kan orang yang setidaknya bisa membantu kami bila ada masalah. Dan kulihat kau pantas untuk mendapatkannya.” Jelas Tetsumi.
“Ooo… Jadi aku hanya membantu kalian begitu?” Tanya Adi.
“Benar.” Kata Tetsumi menegaskan.
“Permisi, maaf menggangu. Ini minumannya.” Kata istrinya sambil memberikan segelas air bening kepada Adi dan sebuah susu kepada Tetsumi.
“Jadi, sejak kapan kamu jadi tertarik untuk minum susu?” Tanya Adi kepada Tetsumi.
“Eenngg…Anu…Itu…Aku jadi malu…” Tetsumi tak mampu mengelak dari kata-kata Adi.
Tampak mereka tertawa kecuali Tetsumi yang malu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan sudah sore menjelang malam.
 “Hei, ayo kita jalan-jalan yuk.” Kata Tetsumi mengajak.
“Baiklah.” Kata Adi mengiyakan. “Tapi disebelah mana?”
“Sebelah sini, kawan….” Kata Tetsumi.

Lalu, merekapun segera pergi untuk berjalan-jalan.

Ternyata saat itu sudah malam dan mereka berada disebuah tempat yang cukup jauh dari Human Village.
Mereka saat itu sedang berbicara tentang rencana berikutnya. Adi dan Tetsumi terlihat cukup antusias membahas rencana tersebut.

Tiba-tiba suasana sunyi sesaat. Lalu Adi bertanya kepada Tetsumi, “Hei Tetsumi, bagaimana kalau sekarang kau menunjukkan kepadaku daerah disekitar sini?”

Mendadak Tetsumi agak kaget karena ia tahu daerah Gensokyo tidak cukup aman untuk orang yang tidak memiliki ilmu yang tinggi sepertinya. Namun ia berkata pelan, “Sepertinya aku tidak bisa…”
“Kenapa?” Tanya Adi bingung.
“Karena aku tidak mau kita terluka ataupun mati terbunuh karena keinginanmu…”
“Jadi kau khawatir karena kita tidak aman? Tenang, ada aku.” Jawab Adi menenangkan Tetsumi.
“Benarkah?”
“Kau kira aku orang yang sering berbohong?” Tanya Adi balik.
“Baiklah. Tapi sebaiknya lain kali saja, saat banyak waktu lowong. Soalnya menjelajahi Gensokyo agak lama.”
“Berapa lama?” Tanya Adi.
“Kalau jalan kaki bisa mencapai 5 hari. Belum ditambah dengan pertarungan bila ada Youkai yang ingin memangsa kita. Mungkin kalau terbang dan semacamnya hanya 1 malam, mungkin semuanya bisa…”
“Kalau begitu biar aku keluarkan permadani terbangku.” Lalu dari sebuah kantong di baju Adi muncul sebuah kain berwarna merah yang amat kecil.
“Itu permadani?” Tanya Tetsumi agak bingung.
“Perhatikan.” Kata Adi. Lalu Adi segera menaruhnya ditanah dan Adi menyebutkan kata-kata asing.

Tiba-tiba kain tersebut menjadi besar dan akhirnya berukuran seperti karpet-karpet pada umumnya.

“Silahkan naik, Tetsu. Kau tamu pertama malam ini.” Tetsumipun berdiri diatas permadani buatan Adi. Lalu Adipun segera ikut naik keatasnya.

Segera saja permadani tersebut naik dari permukaan tanah menuju keatas. Kemudian Adi bertanya, “Kita mau kemana?”
“Kita terbang diatas Human Village. Lalu dari atas biarkan aku melihat tanda-tanda awal perjalanan kita.” Segera saja Adi berkata, “Tujuan pertama: Human Village.”

Tiba-tiba permadani tersebut terbang dengan kecepatan tinggi menuju Human village.  Tampak Tetsumi jatuh terduduk. Sebelum Tetsumi berkata, Adi menjawab kalimat Tetsumi, “Santai saja, Tetsu. Sekarang kau tidak akan jatuh dari permadaniku, asalkan kau berhati-hati.”

Tak lama Kemudian mereka sampai diatas rumah Tetsumi. Lalu Tetsumi berkata, “Biarkan aku melihat keadaan diatas rumahku. Bisakah kau membawaku lebih tinggi lagi?”
“Tentu.” Lalu mereka naik lagi semakin tinggi sampai Tetsumi berkata, “Sudah cukup.” Kemudian Adi melihat ada sebuah danau. Lalu Adi bertanya kepada Tetsumi, “Itu apa?” sambil menunjuk ke sebuah danau.
Tetsumi berkata, “Bisa kita menuju keatasnya? Biar lebih enak diatasnya.”
“Baiklah.” Lalu Adi membawa permadaninya menuju sebuah danau. Setelah diatasnya, Tetsumi berkata kepada Adi, “Ini namanya Misty lake. Kalau kau melihat disebelah sana,” sambil menunjuk sebuah bangunan jaman dahulu, “Itu namanya Scarlet Devil Mansion. Didalamnya ada 2 penghuni tunggal. Mereka adalah Scarlet bersaudara. Tapi jangan kau kira mereka manusia seperti kita. Mereka itu adalah vampire.”
“Vampir? Menarik. Lalu diatas sana itu apa?” kata Adi sambil membawa mereka menuju sebuah hutan.
Tetsumi menjelaskan, “Ini namanya Forest of Magic. Tempat tinggalnya para penyihir.”
“Penyihir? Kenapa mereka tidak tinggal disebelah sana?” Tanya Adi sambil menunjuk sebuah gunung yang tinggi.
“Ooo…mereka berbeda dengan penyihir. Kan ada juga penyihir yang tinggal dalam hutan. Ingat?” kata Tetsumi mengingatkan.
“Ooo…iya ya. Soalnya aku Cuma tahu mereka tinggal dibalik gunung-gunung disana.” Jawab Adi malu-malu. “Terus sebelah sana ada apa?” Tanya Adi lagi sambil membawa mereka pergi menuju gunung yang tinggi tersebut.


-bersambung-
------------------------------------------------------------------------------------
bagaimana ceritanya? silahkan kritik dan sarannya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar