Minggu, 16 September 2012

Kemunculan Manusia bercambuk: Rencana besar (bagian 3)

lanjutannya
---------------------------------------------------------------------------------------------------


Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Adi merasa ada yang mendekatinya. Segera saja Adi bersiaga menghadapi lawannya. Ternyata ada dua orang yang mendekatinya. Salah satunya adalah seseorang yang memiliki mata berwarna biru, rambutnya berwarna pirang dengan panjang sebahu, mengenakan sebuah bando warna merah, serta ada sebuah buku dan sebuah tipis dijari-jarinya. Dan satunya lagi seorang yang memiliki mata berwarna coklat, memliki sebuah tanduk dengan sebuah pita warna biru di salah satu tanduknya sebelah kiri. Ia juga mengenakan sebuah pita warna merah dikepala belakangnya.





Kemudian orang yang memiliki rambut pirang berkata, “Salam kenal, pendatang baru. Perkenalkan, saya Alice Margatroid. Dan ini temanku, Suika Ibuki.” Sambil memegang pundak temannya yang ternyata bernama suika.

“Aku Adi.” Jawab Adi. “Sekarang, apa yang akan kalian lakukan disini? Apakah kalian tersesat?” Tanya Adi dengan nada agak merendahkan.

“O, tidak. Kami tidak tersesat. Kami kemari ingin melihat apa yang terjadi terhadap sebuah permadani yang terbang. Ternyata permadani tersebut mengangkut seorang pemuda.”

“Tidak usah bertele-tele. Kau pasti kemari selain memastikan kalau karpet ini terbang sendiri tanpa ada angin, kau pasti ingin bertarung dengan pengemudi diatasnya bukan?” Tanya Adi yang sudah paham maksud mereka. Ia sudah mulai muak dengan kalimat yang berputar-putar.

“Wah, kau ternyata bukan manusia biasa. Katakan, apa alasanmu kemari.” Kata Alice yang masih tetap bertahan dengan kalimatnya. Alice berkata demikian untuk melumpuhkan kesadaran lawannya.

“Sekali lagi aku katakan, kalian pasti ingin bertarung bukan? Silahkan. Seranglah aku dengan jurus-jurusmu.” Jawab Adi yang mulai kesal karena pertanyaannya tidak mau dijawab dengan cepat. Tetapi Adi sadar, ia mesti membuat sebuah kalimat jebakan. Supaya mereka yang balik menyerangnya.

“Tidak, anak muda. Kami mau tahu apa alasanmu datang ke Gensokyo?” Tanya Alice tidak peduli dengan kalimat Adi sebelumnya.

“Itu urusanku dan bukan urusanmu. Yang jelas aku hanya ingin menambah beberapa hal yang menarik di Gensokyo.” Jawab Adi agak cuek.

“Hoo… Apa itu?” Tanya Suika yang sudah mulai bicara karena dari tadi Suika masih asyik meminum minumannya. Tampak sekali ia agak mabuk.

“Rahasia. Tapi yang jelas, ijinkan aku pergi.” Kata Adi yang merasa perlu mengajak keduanya menjadi sasarannya.

“Hoo… Kau ingin pergi? Kau pasti belum mengetahui adat disini….” Jawab Suika sambil membuat sebuah bola ditangannya.

“Apakah itu? Sepertinya aku belum tahu, tuh…” Kata Adi sambil bersiap.

“Apakah kau pernah dengar kata ‘datang dan dibantai’?” Tanya Suika sambil melempar bola api tersebut seperti pemain sirkus.

“Belum.”

“Kalau belum, akan kami tunjukkan seperti apa bentuknya.” Lalu Suika melempar bola api tersebut kearah Adi. Adi yang sudah tahu akan serangan tersebut, tidak berusaha untuk menangkis atau menghindar. Ia malah diam begitu bola tersebut cukup dekat dengan tubuhnya.


Namun seharusnya serangan Suika membuat Adi mengalami luka bakar. Tetapi yang terjadi Adi malah baik-baik saja. Suika agak terkejut begitu melihat keadaan lawannya.


Lalu Adi berkata, “Sepertinya kalian suka bermain kasar ya? Baiklah, ini aku kembalikan. Terimalah!”

Lalu dari tangan kanannya, sebuah bola api yang dua kali lebih besar dengan kecepatan tak kasat mata melayang menuju kearah Suika. Suika dengan sigap menangkisnya. Namun yang terjadi berikutnya membuat Suika panas sampai kedalam tubuhnya karena ternyata bola api buatan Adi mampu membuat panas dirinya luar dalam. Alice sepertinya merasakan perasaan Suika yang terpanggang .

Kemudian Alice berkata kepada Suika, “Sepertinya kau ingin bertarung, kawan. Silahkan. Aku akan segera menonton kalian dari kejauhan.” Lalu Alice segera menjauhi medan pertempuran. Alice Kemudian duduk disebuah dahan pada pohon yang tak jauh dari tempat pertempuran.


Suikapun berkata kepada Adi, “Sepertinya kau mau merasakan seranganku lagi. Kalau begitu, mari kita mulai.” Lalu Suika bergerak dengan cepatnya mendekati Adi mencoba membuatnya lumpuh. Segera saja Adi menghindarinya dengan tidak kalah cepatnya sehingga serangan Suika hanya mengenai angin saja. Kemudian keduanya kembali terlibat dalam pertempuran yang seru. Keduanya saling menyerang dan menghindar serta sesekali menangkis. Namun tampak keduanya tidak ada yang mengalami luka.

Akhirnya Suika mundur beberapa langkah. Ia segera mengambil sebuah kartu sambil berkata, “
Oni Sign ‘Missing Power’.” Lalu Suika terbang keatas. Adi segera bersiaga menghadapi beberapa hal yang mungkin saja terjadi.

Lalu dari atas muncullah Suika yang begitu besarnya mau menenggelamkan Adi. Segera saja Adi melompat menjauhi Suika yang berubah menjadi raksasa. Tampak sekali kalau serangan Suika membuat sekelilingnya rusak parah. Adi yang tahu akibat serangan Suika langsung bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Kembali pertarungan semakin sengit dengan Suika yang menjadi besar. Adi yang tahu kalau begini serangan Suika, segera saja turun ke tanah sambil mengucapkan beberapa kalimat asing. Adi langsung menempelkan tangannya ke tanah.


Lalu dari atas muncullah Suika yang begitu besarnya mau membenamkan Adi kedalam tanah. Segera saja Adi melompat menjauhi Suika yang berubah menjadi raksasa. Tampak sekali kalau serangan Suika membuat sekelilingnya rusak parah. Adi yang tahu akibat serangan Suika langsung bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Kembali pertarungan semakin sengit dengan Suika yang menjadi besar. Adi yang tahu kalau ia tak bisa menyerang serangan Suika dengan bentuk yang seimbang, segera saja turun ke tanah sambil mengucapkan beberapa kalimat asing. Adi langsung menempelkan tangannya ke tanah.

Tiba-tiba dari tangan Adi muncul sebuah tanda dan dari tanda tersebut muncullah dua buah makhluk. Seekor gajah dan seekor singa yang menaiki gajah tersebut. Singa tersebut rupanya membawa sebuah senjata pemburu. Kemudian makhluk yang berada diatas gajah tersebut berkata, “Salam, tuan. Ada apa tuan memanggil kami? Apakah ada mangsa buat kami?”

“Kau mau tahu dimana mangsanya? Kau bisa melihatnya sendiri.” Kata Adi sambil tersenyum kepada singa yang bernama Ting.



“Dimana? Apakah yang kecil disebelah sana?” Tanya Ting sambil menunjuk Alice.

“Bukan, yang berada tepat didepanmu sama Tong.” Jawab Adi sambil menunjuk kearah Suika.


Tampak kalau dilihat ukuran gajah tersebut kurang lebih tingginya hampir sama dengan Suika yang sudah membesar. Kemudian Ting berkata kepada Adi, “Darimana kau mendapat korban yang hampir sama tingginya dengan Tong? ” Tanya Ting yang kelihatannya menyukai mangsanya.


“Itu karena kemampuannya saja. Sekarang, serang dia!” Perintah Adi kepada Ting.

“Tentu, tuan. Mari kita serang dia, ting.” Lalu segera saja gajah yang bernama Tong bergerak menghadap Suika.

Dengan belalainya, Tong menangkap pergelangan kaki Suika. Suikapun segera menghindari tangkapan belalai si Tong. Tampak jelas kalau ternyata serangan Tong gagal mengenai sasaran dan jarak antara keduanya menjadi jauh. Tongpun segera melontarkan belalainya lagi kearah Suika. Suika langsung menghindar dengan perasaan santai karena tidak akan mungkin gajah dengan belalai begitu bisa menangkapnya. Rupanya dugaannya salah besar. Ternyata pergelangan kaki Suikapun berhasil dijerat oleh belalainya Tong. Kemudian Suikapun segera diangkat oleh si Tong untuk selanjutnya diputar-putar.

Tingpun segera menembakkan senjatanya kearah Suika yang sedang diputar-putar oleh si Tong. Tembakan Ting hanya mengarah ke udara kosong. Tampaknya tembakannya meleset, tetapi pelurunya tiba-tiba berubah arah dari meleset jauh menjadi mengarah tepat kearah Suika yang sedang diputar. Pelurunya tidak langsung masuk kedalam tubuh Suika, tetapi tiba-tiba saja meledak tepat saat tubuh Suika diputar. Kemudian saat meledak, Suikapun terbang keatas. Selanjutnya Adi segera terbang mendekati Suika sambil mengeluarkan cambuknya dan menghilang dari pandangan. Tiba-tiba saja ada bayangan cepat disekeliling tubuh Suika yang Kemudian disusul dengan luka dan darah yang keluar begitu saja dari tubuh Suika. Dan setelah itu muncullah Adi diatas punggung Suika untuk mencambuk tubuh Suika yang besar segera jatuh kebumi. Akhirnya Suikapun jatuh dengan kecepatan tinggi setelah dicambuk dengan kerasnya oleh Adi dan menabrak bumi dengan kerasnya seperti meteor yang masuk kedalam bumi.


Akhirnya pertarungan berakhir dengan Suika mengalami luka parah disekujur tubuhnya terutama pada punggungnya Karena habis dicambuk oleh Adi. Tampak Adi menunjukkan raut muka senang. Namun diganti dengan raut muka khawatir karena ia tidak mau ada korban karenanya. Segera saja ia mengangkat tubuh Suika yang luka sambil mendekati Alice, “Sekarang tolong kau bawa dia pergi sebelum Ting dan Tong menghancurkan Suika.”


Alice yang tahu kalau ia tidak mungkin mengalahkan Adi dan kawan-kawannya berkata, “Baiklah. Sebaiknya kau segera membawa binatang peliharaanmu untuk pergi sebelum ada masalah besar.” Jawab Alice sambil mengambil tubuh Suika yang luka.

“Lagipula, binatang peliharaanmu begitu liar dan buas. Ada baiknya mereka dikandangkan saja…”


Kemudian Alice terbang meninggalkan Adi, Ting, dan Tong yang terbengong-bengong.


“Hei, memangnya kami ini begitu liarnya sampai-sampai sehabis bertarung perlu dikembalikan ke kandang?” Tanya Ting agak marah.

“Sudah, sabar saja Ting. Aku saja tidak meributkannya kok.” Kata Tong.

“Huh. Kamu memang selalu sabar. Tidak kayak aku!” Kata Ting mulai menyombongkan dirinya.

“Hei. Sudah, sudah. Jangan ribut lagi! Mending kalian pulang saja. Urusan kalian sudah selesai.” Kata Adi sambil menyebutkan beberapa kata-kata asing. Kemudian ia segera menangkat tangan kanannya.

Tiba-tiba dari tangannya muncul sebuah cahaya berwarna hijau tua. Dan cahaya itu menyinari Ting dan Tong. Setelah disinari, Ting dan Tong menghilang. Kemudian segera saja Adi berseru kepada permadaninya, “Hai, karpet. Turunlah kamu!” Kemudian permadani tersebut turun dihadapan Adi. Segera saja Adi menaiki permadaninya.


Sebelum permadaninya terbang tinggi, Adi berseru lagi kepada permadaninya, “Hai, karpet! Sekarang berhenti.” Segera saja permadaninya berhenti melayang-layang diudara. Lalu Adi berkata sambil menunjuk sebuah semak belukar. “Hai, kau yang ada disana! Keluarlah kamu. Aku tahu ada seseorang disana. Sebaiknya kau pergi sebelum kau berurusan denganku.”

Kemudian muncullah seorang perempuan dengan rambut sebahu serta sepasang sayap berwarna hitam sambil memegang sebuah pena dan sebuah buku kecil dari semak belukar yang baru saja ditunjuk oleh Adi.


“Ayayayaya, darimana kau tahu aku ada disini?” Tanya perempuan tersebut agak terkejut.

“Sudah. Aku tahu kau sedang mengintip pertarungan kami, bukan? Sekarang, siapa namamu?” Tanya Adi kepada perempuan tersebut.


“Perkenalkan. Aku Aya Shameimaru. Wartawati paling baik hati di Gensokyo.” Kata perempuan tersebut yang namanya Aya.

“Aku Adi. Pendatang baru. Ngomong-ngomong kamu terlalu narsis.” Jawab Adi.


“Sekarang, bisa kau jelaskan, apa alasan kau untuk datang kemari?”  Tanya Aya kepada Adi, tidak peduli dengan kalimat pedas Adi. Ia siap dengan pena dan buku kecilnya.

“Kau mau tahu? Baiklah. Alasan utama aku datang kemari adalah karena pembangunan di daerah ini.” Kata Adi singkat. Ia tahu kalau berhadapan dengan seorang wartawan tidak perlu bicara panjang-lebar.

“Bagus. Ini akan masuk kolom utama.” Kata Aya sambil menulisnya dalam sebuah buku kecil.

“Sekarang, aku mohon kau segera pergi dari sini.” Kata Adi.

“Baiklah.” Kemudian Aya segera menghilang dari hadapan Adi. Adi Kemudian berkata pelan kepada permadaninya. “Pet, sepertinya daerah ini diisi dengan orang-orang aneh.” Lalu Adi berkata, “Sekarang kita pulang ke rumah Tetsumi.” Segera saja mereka menghilang dari tempat tersebut.

================================================================


Adi akhirnya sampai juga di depan rumahnya Tetsumi. Kemudian Adi turun dari permadaninya sambil menyebutkan beberapa kalimat asing. Tiba-tiba permadaninya menjadi kecil dan akhirnya menjadi seukuran saputangan. Segera saja Adi memasukkannya kedalam kantongnya dan masuk kedalam rumah Tetsumi.

Didalam Adi disambut oleh Tetsumi dengan raut muka agak kesal. “Di, lain kali ajari dia menurunkan orang dengan benar ya. Sakit dan bikin repot orang saja nih.” Keluh Tetsumi sambil memegang punggungnya.

“Baiklah. Sekarang aku ijin pamit kedalam kamar.” Kata Adi lalu masuk kedalam kamar yang telah disediakan oleh para tamu.

Begitu Adi masuk kedalam, ia terkejut karena kamarnya tidak beratap.

“Tetsumi, kenapa dengan tempat ini?”

Kemudian Tetsumi masuk dengan membawa sebuah tongkat. Tampak Tetsumi saat itu seperti seorang kakek tua, tetapi kakek ini tidak memiliki uban.

“Inilah akibat dari karpet ajaibmu itu…” Jawab Tetsumi sambil keluar.

Adi bergumam, “Perlu juga karpetku ini belajar. Sekarang aku tidur sajalah…”

Sementara itu di Scarlet Devil Mansion, Remilia menasihati Flandre yang sudah sembuh dengan sendirinya karena Adi Cuma melumpuhkannya.

“Lain kali kau mesti hati-hati, Flan. Kau perlu kehati-hatian dalam melawan musuh. Apalagi lawannya memiliki kemampuan diatas rata-rata.” Kata Remilia panjang lebar. Flandre menundukkan mukanya sambil memainkan jari-jemarinya.

“Iya, kak.” Jawab Flandre pelan.

“Untung dia Cuma ingin melumpuhkan dirimu. Kalau tidak, bisa hancur lebur sampai kau tak berbentuk.” Kembali Remila melanjutkan kalimatnya.

“Tapi, kak. Dia kan juga belum tahu kemampuanku yang sesungguhnya. Bagaimana nanti aku melawannya lagi?” Tanya Flandre yang tampaknya mau melepaskan rasa bersalahnya.

“Jangan. Dia saja melakukan beberapa gerakan sesungguhnya, kau malah bisa dikalahkan. Tidak perlu lagi kau bertarung dengannya.” Jawab Remilia tegas.

“Yaah, kakak.” Sahut Flandre kembali lesu.

Tampak sepertinya bakal penjang nasihat Remilia. Sementara itu tak jauh dari Forest of Magic, suasana rumah Alice tampak begitu sibuk.

Terlihat jelas kalau Suika sudah mulai baikan berkat Alice.

“Bagaimana, Suika? Sudah baikkan?” Tanya Alice sambil duduk disebelah Suika.

“Sudah.” Jawabnya pelan. Tampak ada sedikit raut muka sakit.

“Sekarang, kau tidur saja disini.” Jawab Alice pelan. Kemudian Alice berkata, “Sepertinya orang asing itu kemampuannya hebat juga ya.”

“Iya. Dia bahkan mampu membuatku luka parah begini.” Jawab Suika pelan sambil tersenyum.

“Lain kali kita perlu berhati-hati untuk apapun. Termasuk orang asing.” Jawab Alice.

“Iya.” Jawab Suika pelan.

Karena malam semakin larut, akhirnya semuanya tertidur.
==============================================

Keesekokan harinya dirumah Tetsumi pada pagi hari yang cerah…

Tetsumi sedang menyiram tanaman dihalaman depan rumahnya. Tiba-tiba ia melihat ada 2 orang terbang mendekati dirinya. Salah satunya mengenakan pakaian miko dan satunya lagi terbang dengan sebuah sapu terbang dan pakaian penyihir.

Kemudian Tetsumi berkata kepada keduanya, “Eh, ada Reimu Hakurei dan Marissa Kirisame. Apa yang membuat kalian kemari?”

Rupanya yang datang saat itu adalah Reimu dan Marissa.

“Kami ingin tahu kejelasan berita yang barusan beredar.” Kata Reimu membuka percakapan.

“Berita apa?” Kata Tetsumi balik bertanya.

“Ini.” Kata Marissa sembari menyerahkan Koran hari ini.

Kemudian Tetsumi membaca dengan teliti. Lalu dia segera memanggil Adi.

“Di, kemari. Ada yang mencarimu!” Panggil Tetsumi sambil masuk kedalam rumahnya.


Tiba-tiba saja Tetsumi keluar dari rumahnya sambil berkata, “Sepertinya Adi sedang pergi.”

“O, iya? Kemana?” Tanya Marissa.

“Entahlah, sepertinya ia sedang pergi ke...”

“Hei, siapa kau?” Ternyata Tetsumi keluar dari rumahnya sambil terkaget-kaget karena ada orang mirip dengannya.

“Siapa kau?” Tanya Tetsumi yang baru keluar dari rumahnya sambil mendekatinya.


“Lha, kau siapa?” Tanya Tetsumi yang baru saja berbincang dengan Marissa.

“Justru kau siapa?” Tanya Tetsumi yang baru keluar dari rumah yang mulai kesal. “Kalau tidak, kau akan menyesal telah meniruku.”

“Aku adalah Tetsumi. Kau mestinya jangan main-main denganku ya!” Seru Tetsumi yang baru berbincang dengan Marissa sambil kesal.

“Jangan main-main!” Kemudian Tetsumi yang keluar dari rumah menerjang Tetsumi yang baru saja berbincang dengan Marissa.

“Hai. Tenanglah. Sebenarnya yang mana Tetsumi yang asli?” Tanya Marissa yang mulai pusing melihat perbedaan antara Tetsumi asli dan palsu.


“Sabar saja, Marissa. Biarkan saja mereka bertarung.” Jawab Reimu dengan santainya.

“Kenapa kau jadi santai begitu?” Tanya Marissa yang mulai bingung dengan temannya.

“Sudah. Kau tenang saja.” Kata Reimu sambil membiarkan sesama Tetsumi bertarung.

Tetsumi menyerang Tetsumi yang baru berbicara dengan Marissa. Dengan mudahnya, ia mampu menghindari serangan Tetsumi yang sedang menyerang.

Lalu Tetsumi yang menghindar memukul perut Tetsumi yang menyerangnya. Tampak setelah dipukul, Tetsumi yang menyerang terlempar dari daerah pertempuran sejauh 1 km.

Kemudian Tetsumi yang menyerang mendekati mereka sambil berkata, “Sebaiknya kau mengaku saja deh, Adi. Jangan buatku luka begini.”

“Baik. Baik. Aku akan menampakkan wujudku.” Ternyata Tetsumi yang menang itu adalah Adi. Lalu Adi segera membawa Tetsumi ke hadapan Reimu dan Marissa.

“Jadi sebenarnya aku sedang menguji apakah kalian kebingungan atau tidak. Rupanya hanya kau yang kebingungan.” Kata Adi sambil menunjuk Marissa.

Marissa berkata kepada Adi, “Dasar kau ini! Menipuku saja.”

“Maaf, nona. Aku hanya ingin mengujai kemampuan kalian.” Lalu Adi melirik Reimu dan berkata, “Nona yang satu ini cukup hebat juga untuk mengetahui siapa yang asli.”

“Baik, baik. Hentikan kalimatmu yang berputar-putar itu.” Kata Tetsumi mengalihkan perhatian.

“Sekarang perkenalkan sebelumnya, Adi. Reimu, Marissa, ini Adi. Adi, kenalkan. Ini salah satu tetua Gensokyo. Marissa dan Reimu.” Kata Tetsumi memperkenalkan diri masing-masing.

“Marissa Kirisame.” Kata Marissa memperkenalkan dirinya.

“Adi permadi.”

“Reimu Hakurei.” Reimu juga memperkenalkan dirinya.

“Adi permadi.”

“Jadi,” Kata Reimu kepada Adi, “Apakah benar kemarin kamu bertarung dengan Cirno sekaligus melawan Flandre dan Suika?”

“Benar, kenapa?” Tanya Adi.

“Soalnya kami kaget karena jarang sekali ada pendatang baru bisa melumpuhkan mereka semua …” Kata Marissa melanjutkan. “Jadi benar kamu mengalahkan mereka?”

“Tentu saja.”

“Kenapa kamu melakukannya?” Tanya Reimu lagi.

“Jadi, sebenarnya begini…” Lalu Adi menjelaskan awal pertarungan antara dirinya melawan beberapa orang kemarin.

“Kalau begitu…. Itu salah mereka sendiri bukan?” Tanya Reimu kepada Marissa.

“Sepertinya begitu…” Kata Marissa.

“Memangnya salah membela diri?” Tanya Adi sambil meyakinkan kepada keduanya kalau dia tak bersalah.

“Siapa bilang kamu tidak bersalah? Kamu harus ikut dengan kami.” Kata Reimu sambil mengangkat ujung  kerah baju Adi ke sebuah tempat.

“hei, tunggu!” Seru Marissa sambil mengejar keduanya.

“Tetsumi, aku pamit ya!” Teriak Adi di ketinggian. “Hai, apa yang kamu lakukan, Reimu!?”

“Kamu pokoknya harus ikut dengan kami!” Tegas Reimu lalu segera menjatuhkan Adi ke sapu terbangnya Marissa.

Adipun Tak berkutik saat dibawa oleh mereka berdua.

-BERSAMBUNG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar