Jumat, 27 September 2013

Kemunculan manusia bercambuk : Rencana Besar (Bagian 4)


Akhirnya mereka membawa Adi kesebuah tempat yang penuh dengan pepohonan.

Lalu Reimu berkata, “Selamat datang di Forest of the Magic! Kamu disini akan kami minta keterangan soal kejadian kemarin.” Lalu Reimu langsung menyerang Adi.

Adi yang menyadari kalau mereka pasti sedang ingin mencoba kemampuannya, langsung menghindar dari serangan Reimu.

“Hmm…. Boleh juga. Tapi, apakah kamu mampu menghindari serangan berikutnya?” Tanya Reimu kembali menyerang Adi.



Adi langsung menghindari serangan Reimu sehingga yang  diserang oleh Reimu hanya angin saja.

Lalu Marissa berkata kepada Reimu, “Sepertinya ada yang tidak bisa melawan orang baru nih. Biar aku saja yang melawannya.” Kemudian Marissa mendekati Reimu dan meminta agar Reimu minggir. Reimu Kemudian segera minggir, untuk mengetahui apakah bisa kawannya menyerang pemuda asing tersebut.

Adi segera saja menyerang Marissa dengan sekali pukulan mengarah ke perut Marissa. Marissa tahu akan diserang oleh Adi, langsung menangkisnya. Namun ternyata yang terjadi cukup mengejutkan. Ternyata pukulan Adi membuat pertahanan Marissa jebol seketika. Marissa yang menyadari pertahanannya jebol, langsung menghindar dari pukulan Adi yang jaraknya sudah cukup dekat. Serangan Adi hanya mampu membuat angin yang mengenai tubuh Marissa.

Reimu yang memperhatikan pertarungan tersebut bergumam, “Kuat juga orang ini. Buktinya ia mampu menjebol pertahanan Marissa yang cukup kuat, walaupun kemampuan Marissa agak lebih rendah dibandingkanku. Memang orang ini bukan orang biasa.”


Tampak pertarungan menjadi semakin sengit. Marissa yang tahu ternyata kemampuan Adi diatas rata-rata, sekarang mulai menghindari serangan Adi.


Adi merasa bahwa pertarungan ini perlu diselesaikan segera. Maka dia segera menjauhi Marissa, lalu memungut batu-batuan dan melemparnya kearah Marissa. Marissa yang terkejut lalu menghindar dari lemparan Adi. Kemudian Marissa menyadari kalau tiba-tiba Adi sudah tidak ada ditempat. Marissa memalingkan wajahnya. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Lalu setelah itu ia melihat Adi di hadapannya sambil berkata, “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku sudah membuatmu lumpuh. Jadi sebaiknya kau menyingkir. Biarkan kawanmu menghadapiku sekarang.”

“Apa?”

Lalu Marissa kehilangan keseimbangan dan jatuh tertelungkup. Kemudian Reimu datang menghampiri Marissa. Lalu ia segera membawa tubuh temannya menjauhi medan pertempuran. Reimu meletakkan tubuh temannya sambil menghadap pertandingan antara dirinya melawan Adi.
Lalu ia berkata, “Baiklah, mari kita bertarung.”


Itulah yang ditunggu-tunggu oleh Adi. Segera saja Adi menyerang Reimu dengan kekuatannya memukul perut Reimu. Reimu langsung menangkisnya dengan kekuatannya. Terjadilah kejadian yang tak diduga oleh keduanya. Rupanya pertahanan Reimu mampu membuat Adi mundur beberapa langkah. Reimu yang langsung mengetahui kekuatan Adi, segera menyerang Adi dengan lincah dan tak terduga. Adi segera bertahan begitu mengetahui kalau ternyata serangannya tidak terlalu kuat. Reimu langsung menghajar jantung Adi yang langsung ditangkis oleh tangan Adi. Lalu Adi segera menyerang balik. Tetapi ia menyadari kalau Reimu tiba-tiba menghilang. Adi lalu berjaga-jaga dari serangan tak terduga. Tak lama setelah itu, ia melihat Reimu muncul dari atas sambil menyerangnya dengan kakinya. Adi yang mengetahui serangan Reimu tetapi tak siap dengan kedatangannya segera saja menangkisnya. Namun ternyata serangan Reimu cukup kuat, sehingga membuat Adi bergeser dari tempatnya berdiri sejauh 5 langkah.

Adi lalu berkata, “Segitu saja, nona? Kalau begitu biar aku selanjutnya.”

Lalu Adi segera mundur lagi sejauh 5 langkah dan memejamkan matanya dan mengangkat kedua belah tangannya keatas. Lalu Adi melihat sebuah kartu muncul dari tangan sebelah kirinya dan ia tersenyum.

Lalu Adi berkata, “Mr.A Power ‘The Real Whip Attack’!”


Adi segera mengambil cambuknya sambil memusatkan kekuatannya. Kemudian Reimu melihat dari tubuh Adi muncul cahaya merah kehitam-hitaman. Tiba-tiba saja langit menjadi gelap dan angin mulai berhembus kencang. Kemudian Reimu berdiam diri sambil mempersiagakan dirinya atas serangan tak terduga.
Tiba-tiba keadaan semakin gelap, sampai-sampai Reimu tak melihat apa-apa. Kemudian ia melihat sebuah cahaya yang sangat terang diahadapannya. Kemudian Adi muncul didepannya sambil mengangkat cambuknya dan menerjang Reimu. Reimu langsung bertahan seperti orang menangkis. Namun tiba-tiba Adi menghilang dan muncul dibelakangnya. Tanpa diduga, ia langsung mencambuk Reimu. Reimu merasa sekujur tubuhnya sakit semua seperti habis dicambuk oleh ribuan orang. Akhirnya ia jatuh setelah sesuatu mencambuknya dengan keras sampai-sampai Reimu tak mampu untuk bertahan. Lalu Reimupun akhirnya jatuh tersungkur.


Kemudian langitpun terlihat lagi. Anginpun sudah mulai berhembus pelan. Dan Adi memandangi lagi tubuh Reimu yang jatuh tertelungkup. Ia memperhatikan tubuh Reimu. Tampak dari serangannya membuat Reimu pingsan. Ia sekali lagi melihat kalau dari belakang tubuh Reimu mengeluarkan darah yang tak terlalu sedikit. 

Tampak salah satu kulit Reimu memperlihatkan tulangnya. Lalu ia segera menghampiri Marissa sambil menyentuh tubuh Marissa. Dengan kedua buah jarinya, Adi menyentuh beberapa bagian pada tubuh Marissa.

Kemudian Marissa berdiri sambil berteriak, “Sebenarnya apa yang kamu lakukan kepadaku? Dan apa yang kamu lakukan pada temanku sampai begitu!” Lanjutnya sambil mendekati Reimu yang mengalami luka parah.

“Hei hei hei… tenang dahulu. Aku hanya ingin menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Sekarang kita bawa kita Reimu kerumahnya.” Kata Adi mencoba mengalihkan perhatian.


Akhirnya Marissa menenangkan dirinya. Lalu ia berkata. “Tunggu dulu. Kau tidak bisa membawa Reimu dengan keadaan begitu. Mari kita bawa ia kerumahku.”

“Baik. Tapi aku bawanya sambil naik sapu terbangmu ya. Kau pasti punya.” Jawab Adi. Lalu Marissa mengambil sapu terbangnya sambil menaiki sapu terbangnya.

“Baik, pegangan. Mungkin kita akan bergerak sedikit cepat.” Kata Marissa setelah Adi naik sambil menggendong tubuh Reimu yang keadaannya cukup parah.


Lalu Marissa segera mengangkat sapu terbangnya.

Setelah jauh, Aya muncul dari persembunyiannya sambil berkata, “Sekarang Marissa dan Reimu. Hari ini kelihatannya menjadi hari keberuntungan bagiku. Sebaiknya aku segera membuat berita ini sebelum kedahuluan oleh yang lain.” Lalu Aya terbang menuju tempatnya.

*********


Tampak Adi agak ketakutan karena ini kali pertama ia terbang dengan sebuah sapu. Mungkin baginya terbang dengan sapu merupakan salah satu hal yang diimpikannya sewaktu kecil. Dan ia melihat salah satu impiannya tersebut menjadi kenyataan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh Marissa, “Hai, kamu tidak apa-apa? Dari tadi sewaktu kita naik, kamu tidak berbicara. Apa yang kamu pikirkan?”

“Tidak, aku Cuma berpikir kayaknya kekuatan yang kugunakan membuat seorang tetua daerah ini menjadi pingsan karenaku.”
“Lalu?”
“Aku khawatir ia akan mati karena aku. Kalau ia mati, aku pasti akan menjadi seorang penjahat didaerah ini. Dan aku mungkin tidak akan memaafkan diriku sendiri…”

“Jangan khawatir. Setidaknya dengan kemampuanku, Reimu akan sembuh secepatnya.” Jawab Marissa meyakinkan Adi. “Tapi bicara kekuatanmu yang bisa mengalahkan kami. Ini suatu hal yang agak aneh karena sekarang ada orang lain didaerah ini yang mampu mengalahkan kami. Biasanya mereka yang kalah karena kami. Sekarang, apa keinginan kamu sebenarnya saat kau pertama kali datang kemari?”

“Sebenarnya keinginanku datang kesini hanya untuk membantu melancarkan keinginan Tetsumi dan kawan-kawannya, yaitu membangun sebuah peradaban disini.”
Lalu Adi menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan, seperti adanya listrik.
“Hmm…. Menarik. Lalu kenapa jadi kamu yang harus kesini?” Tanya Marissa. Sebelum Adi menjawab, Marissa berkata, “kita telah sampai.”

Lalu mereka turun didepan rumah Marissa. Kemudian Adi turun dari sapu terbangnya sambil berkata, “Jadi ini rumahmu?”

“Benar. Mari kita masuk.” Lalu marissa membukakan pintu kepada Adi untuk segera membawa masuk Reimu. Adi sejenak memandangi rumah Marissa. Rumah itu baginya sama seperti rumah jaman dahulu.
“Taruh ia di kasur. Sekarang biarkan aku mengobatinya.” Kata Marissa setelah mereka sampai di kamar Marissa. Lalu Marissa membaca beberapa kalimat yang tidak dimengerti oleh Adi. Lalu tangan Marissa direntangkan diatas tubuh Reimu. Tiba-tiba Adi menyaksikan ada sebuah cahaya dari tangan Marissa. Lalu cahaya tersebut berpindah tempat ke tubuh Reimu. Dan Kemudian Adi menyaksikan sebuah luka yang dibuat oleh Adi tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Lalu cahaya tersebut akhirnya menghilang seiring dengan luka-luka pada tubuh Reimu yang tinggal garis-garis saja.

Lalu Adi berkata, “Kurasa sudah waktuku untuk pulang. Sekarang izinkan aku untuk pulang. Tolong titip
salam maafku karena membuatnya terluka parah.”

Kemudian Adi menghilang setelah pintu ditutup. Lalu Adi segera keluar dari rumah Marissa sambil bergumam, “semakin unik saja orang-orang disini. Baiklah, aku akan segera pulang.” Adi segera menjauhi rumah Marissa.

Tak lama setelah keluarnya Adi dari rumah Marissa, tiba-tiba Reimu sadar sambil memperhatikan sekitarnya.
“Mmm….Marissa… apa yang terjadi padaku?” Tanya Reimu kepada Marissa setelah sadar walaupun belum seutuhnya sadar akan keadaan dirinya.

“Kau kalah oleh Adi. Sekarang, beristirahatlah, kawan.” Jawab Marissa singkat.

“Ternyata dugaan kita selama ini salah besar. Mulai sekarang kita harus banyak berlatih untuk mengalahkan pemuda itu dan jangan remehkan kemampuan setiap orang yang baru datang kesini.” Kata Reimu kepada Marissa. Marissa mengganguk setuju.

*******

Sementara itu, Adi melihat ada sebuah bangunan bertuliskan ‘Kourindou’ dan ia melihat orang dan Youkai masuk kedalamnya.
Adi tertarik untuk melihat lebih lanjut. Lalu ia segera mendekati bangunan tersebut.
“Selamat datang di Kourindou. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya seseorang yang ternyata Youkai.
“Permisi. Saya Cuma mau melihat-lihat. Apakah saya boleh melihat barang yang dijual disini?” Tanya Adi kepada Youkai tersebut.
“Silahkan. Kalau anda membeli malah akan membantu toko kami.” Jawab Youkai tersebut.
“Tidak, terimakasih.”

Lalu Adi melihat-lihat benda-benda yang terpajang disitu. Ia melihat ternyata barang-barang yang dipajang merupakan barang-barang yang biasa ia lihat sewaktu ia belum datang kemari.

Kemudian ia mendengar ada suara, “kita kedatangan lagi barang dari dunia luar! Ini apa namanya dan gunanya?” Lalu Adi melihat sebuah benda yang bentuknya persegi panjang dengan angka-angka dari 1 disertai huruf-huruf seperti abc, 2 def, sampai 9 wxyz. Lalu ia melihat seorang laki-laki dengan kacamata tanpa frame berkata, “Ini namanya Handphone. Ia dipakai untuk berbicara dengan orang yang jauh letaknya. Tapi aku tidak tahu cara pakainya.” Adi tidak tahu kalau ternyata yang berbicara adalah Rinnosuke, pemilik toko Kourindou.
Lalu Adi berkata mendekati mereka, “Ini cara pakainya begini.” Lalu Adi menjelaskan sambil memperagakan caranya.

Setelah selesai memperagakan, pemilik toko berkata. “Wah, bagus sekali nak. Apakah kamu penduduk disini?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Aku hanyalah seorang pendatang yang bertamu ke daerah ini.”
“Apakah kau orang baru yang kemarin masuk koran yang masuk kolom berita panas?” Tanyanya kepada Adi.

“Begitulah. Memang kenapa?” Tanya Adi kepada pemilik toko.

“Kalau benar, kau bukan orang biasa. Maukah kau bekerja disini?” Tawar pemilik toko kepada Adi.
“Wah, maaf. Saya sudah ada pekerjaan. Kalau bapak mau, bapak bisa mendatangi kediaman Tetsumi Nobuzura.” Jawab Adi kepada pemilik toko. “Tapi sepertinya dari tadi kita belum memperkenalkan diri ya. Kenalkan, saya Adi.”
“Saya Rinnosuke, pemilik toko ini.” Kata Rinnosuke kepada Adi.
“Pemilik toko. Wow, anda ternyata pemilik toko ini.” Kata Adi agak takjub.


“Yaah, begitulah. Kalau saya boleh tahu, apa keperluan anda kemari?” kata Rinnosuke balik bertanya kepada Adi.
“Cuma ingin jalan-jalan saja. Sekalian mau lihat barang-barang yang anda miliki apakah bisa untuk saya bawa kemari.” Jawab Adi singkat sambil terkekeh kecil. Lalu Adi berkata setelah ia melihat jam di tangannya, “Baiklah, saya permisi dahulu.”
“Hati-hati diperjalanan. Semoga perjalanan anda menyenangkan.” Kata Rinnosuke. Lalu Adi keluar dari toko Kourindou dan kembali ke desa manusia (Human Village).

Kemudian Adi menuju rumah Tetsumi.

“Hai di, bagaimana dengan perjalananmu? Apakah menyenangkan?” Tanya Tetsumi begitu Adi sudah masuk dalam perkarangan rumahnya.
“Buru-buru senang. Yang ada juga aku disuguhkan dengan adat istiadat ala Gensokyo.” Jawab Adi agak ketus.
“Kenapa?” Tanya Tetsumi bingung.
“Soalnya tadi aku diajak bertarung. Ternyata secara tidak sengaja aku malah membuat Reimu jadi pingsan karena kekuatanku.” Kata Adi kepada Tetsumi.
“APA? Terus sekarang bagaimana dengan Reimu?” Tanya Tetsumi langsung mencecar Adi.

“Sabar dulu dong. Jadi begini...” Lalu Adi menjelaskan ceritanya setelah Adi sampai disebuah daerah yang penuh dengan pepohonan. Ia menceritakan dengan apa adanya. Tetsumi mendengarkan dengan seksama.
Setelah selesai, Tetsumi bergumam pelan, “Wah, enaknya jadi kamu. Tidak seperti kami, para manusia disini.”

“Kamu mau? Kalau mau, mari kuajak kau ketempat kita kemarin berlatih. Kita akan latihan lagi.” Kata Adi kepada Tetsumi yang ternyata gumaman Tetsumi didengar oleh Adi.
“Benar? Tapi aku tidak mau deh. Nanti bisa-bisa aku jadi buronan” Jawab Tetsumi halus.
“Terserah, tapi kalau kau tidak mau, jangan salahkan aku ya kalau kau tidak aman kalau mau kemana-mana.” Kata Adi tenang seolah-oleh membiarkan temannya mati dimakan Youkai.
“Kurasa baiknya aku ikut denganmu.” Jawab Tetsumi akhirnya setelah berpikir agak lama.
“Baiklah, sekarang kau ikut denganku.” Lalu mereka pergi ketempat yang sama seperti tadi malam.
Lalu disitu Adi mengajarkan beberapa hal yang penting selama pelajaran dimulai. Selama ia mengajari, terlihat kalau Tetsumi sangat antusias. Adi kagum atas kemauannya dalam belajar membela diri.
Akhirnya pelajaran mereka berakhir untuk hari itu.
“Bagaimana? Apakah berat untukmu?” Tanya Adi kepada Tetsumi.
“Tidak, pak guru.” Jawab Tetsumi.
“Sekarang mari kita pulang.” Kata Adi kepada Tetsumi.

Namun, belum ada beberapa puluh langkah dari tempat mereka berpijak, mereka melihat sesuatu yang mencurigakan. Kemudian Adi berteriak “Siapa itu?”


*Bersambung*

-------------
Mohon maaf bila isi cerita dipotong jadi beberapa bagian
biar gk ngebosenin ;)

Nantikan bagian 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar