Rabu, 02 November 2016

[Cerbung] Manusia Aneh: Cerita Keluarga Tomi

 
“Pagi, Tomi.” Seruku kepada temanku yang baru saja keluar dari rumahnya.

“Eh, Lely. Pagi juga.” Serunya.


“Pagi ini kamu sudah kerjain tugas dari pak Adrian belum?” Tanyaku kepada Tomi.

“Eh, aku belum kerjain tugasnya pak Adrian tuh.” Katanya dengan nada agak panik.

Aku hanya bisa menghela nafas sambil bergegas menyisir rambutku yang agak lusuh sehabis mandi. Namaku lely ningsih. Umurku baru saja menginjak 15 tahun. Aku sekarang berstatus sebagai pelajar disebuah SMA swasta. Saat ini aku mengenakan kaos senam warna biru keabu-abuan dengan loreng warna jingga. Aku juga mengenakan celana senam warna biru tua dengan loreng hijau kecoklatan(jangan salah, ini karena memang waktu beli memang seperti ini!). kenapa aku mengenakan pakaian seperti ini, tidak mengenakan pakaian seragam? Baiklah, mungkin kalian tahu bahwa peraturan disekolah kami tidak mewajibkan kami memakai pakaian seragam dikarenakan pakaian seragam itu hanya untuk orang yang melakukan sebuah kegiatan sekolah, seperti adanya OSIS maupun kegiatan seperti pramuka.


“Lely..” Tiba-tiba saja Tomi mendekatiku. Aku langsung mendadak menjauh sambil mengibas-kibaskan tanganku menjauhi Tomi.

“Apaan sih, tom?” Tanyaku setelah berhasil mengendalikan diri.

“Boleh ndak aku pi
njam tugas punyamu?” Tanya Tomi.
Sejenak aku bimbang tidak menjawab kata-kata Tomi. Lalu aku pandang lagi Tomi. Tomi ini sebenarnya anak yang agak aneh bagiku karena dia mengenakan jaket dengan corak yang.. bisa dikatakan agak aneh. Namun walaupun pakaiannya agak aneh, aku sebenarnya diam-diam suka sama anak ini karena dia itu perhatian dan mau menjadikan aku ini temannya, walaupun aku ini bisa dibilang agak tomboy. Tomi adalah anak satu-satunya dari keluarga tante Mira. Selain aku suka karena sifatnya, aku juga suka dia karena dia memiliki rambut yang dimana sisi sebelah kanannya seperti tanduk setan tidak sempurna seutuhnya, sisi kirinya tampak seperti bantal roti yang dikikis oleh longsor. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Dia juga memiliki sifat yang berbeda dengan anak-anak disekolahan(bukan, dia agak nakal.. tapi dia itu nakalnya masih bisa dikendalikan!). Ya, bisa dibilang dia itu juga tergolong anak yang rajin, cerdas, serta pandai(belakangan aku baru tahu dia pandai dan rajin bilamana dia ingin!).
Selain itu dia memiliki mata hitam agak kemerahan yang membuatku kadang bisa merinding sendiri saking tidak bisanya aku mengendalikan diri karena tatapannya begitu hangat seperti kau bercerita kepada sahabatmu sendiri. Dia juga mengenakan celana yang bisa dibilang agak aneh bagiku, walaupun standart sekolahan tidak melarang. Celananya memiliki panjang selutut agak kebawah dengan corak yang bila digabung dengan jaketnya malah menyatu coraknya. Hal itu membuatku agak heran, karena aku bisa dibilang bukan tipe orang yang cinta seni.


“Lel..? Kamu mendengarkan tidak?” Tanya Tomi mendadak mengagetkanku.

“Eh? Apa, tom?” Tanyaku begitu aku sadar kembali.

“Kamu mau ndak pinjamin aku bukumu?” Tanyanya kembali membuatku kembali bimbang.

“Tenang aja. Aku ndak akan main sembarang salin kok. Atau kamu tadi mikir yang tidak-tidak?” Tanya Tomi yang membuatku jadi agak gugup.

“Eh? Ya tidak, lah. Aku Cuma malas aja kasih ke kamu.” Kataku dengan nada sedikit ketus demi menghilangkan rasa gugupku.

“Kenapa? Apa kamu udah punya teman baru, jadinya aku ditinggalin?” Tanyanya yang membuat hatiku jadi sedikit luluh.

“Iya.. deh. Kamu boleh aja pinjem. Tapi nanti..” Kataku sambil memberikan bukuku. Namun belum selesai aku bicara, Tomi langsung saja secepat kilat mengambil buku yang masih kupegang tanpa kusadari. Kini ia langsung saja duduk dibawah jalan sambil menulis dengan cepatnya.


“HEI! Kalau mau pinjam itu, dengarin dulu dong yang punya!!” Seruku sambil berkacak pinggang.

“Iya, aku tahu kok. Nanti aku balikin.” Katanya kini sibuk menulis.

“Bukannya itu. Aku Cuma..”

“Selesai!” Seolah tidak percaya, aku langsung saja mengambil secepat yang aku bisa. Aku membanding-bandingkan isi punyaku dengan punyanya. Ternyata dia Cuma salin inti, tapi isi tulisan sangat berbanding terbalik dengan punyaku. Aku hanya bisa terperangah sambil bergumam, 
Tomi memang anak yang berbakat sekali. Tidak sia-sia dahulu aku bertemu dengannya sewaktu masih kecil.’


Belum ada beberapa detik ketika aku mengenang masa dimana aku bertemu dengannya, Tomi merebut bukunya sambil berkata, “Siapa dulu. Tomi.”

“Huu… maunya.” Lalu aku menaruh bukuku kembali sambil berjalan bersamanya.

Diperjalanan dia bercerita tentang kejadian yang baru saja kita alami, namun aku tidak terlalu menanggapi karena aku masih membayangkan masa dimana aku bertemu dengannya saat masih kecil. Saat itu aku baru saja pindah rumah sewaktu aku masih menginjak bangku TK. Waktu itu aku sedang duduk ditepi kolam ikan ketika aku mendengarkan sebuah suara yang asing. Aku berjalan mengikuti suara itu. Ternyata itu adalah suara Tomi yang sedang diajari berlatih oleh seorang ibu yang belakangan aku ketahui adalah tante Mira. Tante Mira itu adalah seorang ibu yang bisa dibilang olehku bahwa dia itu cukup bersahabat denganku. Oke, kembali ke cerita. Saat itu aku melihat Tomi bergerak dengan gerakan yang bagiku mirip seperti orang mabuk yang baru saja kehilangan barang berharga kesayangannya. Dari awal aku tidak begitu memperhatikan karena saat itu aku hanya melihat sesuatu hal yang aneh dibelakangnya. Makhluk itu agak sulit aku gambarkan karena disamping gerkannya yang cukup cepat, makhluk itu mampu menyamar sehingga bagi orang biasa itu hanya angin lalu. Namun bagiku itu seperti makhluk aneh yang melindungi Tomi setiap saat ia mampu(aku merasa bahwa aku ini memiliki kekuatan yang berbeda disbanding orang biasa).


Setelah selesai latihan, aku langsung saja kembali ke kolam secepat yang aku bisa. Ketika aku kembali memperhatikan makhluk aneh itu dengan membayangkan, tiba-tiba saja Tomi mendekatiku sambil berkata, “Hei anak baru. Kenalkan. Namaku Tomi Permadi. Siapa namamu?”

“Namaku lely, tapi kau bisa panggil aku dengan lela.” Kataku.


Singkat cerita, akhirnya aku dan dia menjadi kawan akrab seiring berjalannya waktu, dikarenakan banyak hal yang sama-sama kami ceritakan dan kami alami serta kejadian itu kadangkala sama-sama kami alami.

Dan sebab itulah aku jadi lebih sering menjadi seorang yang tomboy ketimbang feminin, layaknya wanita umumnya.


“Hai, lely. Kamu itu melamunkan apaan sih? Kok aku akhir-akhir ini sering bingung sama tingkahmu?” Tanya Tomi membuyarkan lamunanku.

“Eh… Enngg…Anu..”

“Anu kenapa? Anumu kejepit?” Tanya Tomi sambil melihat sekeliling pahaku. Aku hanya bisa terdiam sambil menutup pahaku dengan tanganku.

“Aaahh..Tomi nakal deh!”

“Tidak ada apa-apa kok. Kamu itu mikir apaan, sih?” Tanya Tomi seolah-olah dia berhasil melihat isi pahaku.

“Aaah.. Tomi.. Genit deh! Kalau liat-liat itu ijin dulu sama orangnya.” kataku sambil memukul pundaknya.

“Kalau begitu apa masalahmu?”

“Anu, aku Cuma heran sudah lama nih kita kumpul, tapi sepertinya aku merasa bahwa ada yang kurang.” Kataku. Lalu aku kembali melanjutkan, “Kayaknya selama ini kamu menyembunyikan sesuatu dariku, padahal kita sering jalan bareng, dan lain sebagainya.”

Kesunyian abadi sempat tercipta. Namun tiba-tiba saja kami menyadari bahwa kami sudah sampai di sekolahan. Dan kebetulan saja terdengar bel berbunyi sebanyak 1 kali.
“Walah, kita terlambat nih. Ayo, kita segera ke kelas.” Lalu Tomi secepat kilat berjalan menuju kelas. Aku tidak mau terlambat juga, langsung saja aku pegang lengannya, biar tidak ikut terlambat oleh langkahnya. Tomi menoleh sejenak, lalu ia tersenyum sambil mempercepat langkahnya.
*****


“Selamat pagi, anak-anak.” Kata guru Adrian sambil membenarkan letak kacamatanya.

“Pagi, pak guru…” sahutku dan teman-teman serempak.
Aku menatap pak Adrian. Pak Adrian dengan kacamata yang bisa dibilang bagiku cukup gaul dan aneh, karena kacamata guru itu tidak mengenakan tangkai pada umumnya, melainkan menggunakan sebuah benda mirip gelang karet untuk pembungkus makanan(mirip seperti ketika kau menggunakan topeng). Sorot matanya begitu tajam dengan warna bola matanya hitam kebiruan. Rambutnya mirip orang cupu, tetapi dipadukan dengan gaya Mohawk disisinya. Walaupun guruku ini agak aneh, namun dia bisa saja membuat murid-murid sering salah menebak mau guru aneh satu ini.
Pernah salah satu teman kami jadi korban keusilan guru kami karena guru ini menunjuk dengan jelas ke arah temanku ketika dia membuat sebuah soal. Namun kemudian pak Adrian berkata, “Iya, kamu tolong suruh teman sebelahmu untuk maju kedepan.” Sontak suara riuh dan rasa malu menghampiri anak malang tersebut. Pak Adrian sekarang mengenakan batik motif bunga bercampur dengan garis-garis yang menurutku lebih mirip rantai yang dibelit oleh sekumpulan bunga. Celana panjangnya juga cukup kontras dengan bajunya, sehingga bisa dibilang malah mirip dengan sebuah mayat hidup yang kini mau kondangan.


“Oke, anak-anak. Sekarang buka halaman 69..”

“Wah, pak gurunya jorok nih.” Gumam seorang murid laki-laki kepada temannya didepanku. Sontak saja suara cekikikan memenuhi seisi kelas.

“Anak, anak. Kalau masih ribut, nanti kalian saya suruh debat sama dia, lho.” Kata Pak Adrian sambil menunjuk Parkijo yang kini dia sekarang berkata, “Hai, temen-temen. Apa kalian tahu bahwa ulat bulu itu bisa berubah? Iya lho, sekarang ada yang bilang kalau siang makan nasi, malam minum susu.” Temen-temen langsung saja pura-pura sibuk mendengarkan pak Adrian ketimbang debat sama Parkijo. Aku hanya bisa menyengir sambil menatap kembali ke arah Tomi.
Tomi kini sedang menulis sesuatu yang tidak aku ketahui. Namun dari gerakan pulpennya aku tahu bahwa ia sedang menulis sesuatu yang tidak ada dalam buku pelajaran maupun yang kini pak Adrian tulis di papan tulis. Saking asyiknya aku memperhatikan, aku sampai tidak mendengar Neni, teman sebangkuku berkata, “Lel! Kamu itu sedang liat apaan?”


“Eh, aku lagi liat si Parkijo. Kapan ya dia berhenti mabuk macam begitu?” Tanyaku mengalihkan perhatian.

“Ya
 elah, biarin aja doi gitu. Kan gara-gara punya ortu masuk RSJ, jadinya dia kek gitu deh.” Kata Neni kini sibuk menulis tulisan yang terpampang di papan tulis. Kemudian dia mengambil sebuah sisir elektrik yang bilamana sisir itu bisa mengubah bentuk rambut Neni menjadi sedikit kriwil-kriwil.
“Aaah, sial. Kenapa modelnya jadi begini?” Lalu Neni mengubah modenya menjadi rambut yang sedikit bergelombang dan ujungnya mirip dengan putaran bor. Aku Cuma tersenyum sembari mencatat tulisan dipapan tulis.
*****


“Lel, tadi sepertinya pak Adrian tidak memberikan tugas lagi ya.” Kata Tomi kepadaku setelah kami menemukan meja untuk makan.

“Iya,
 ya. Kebetulan banget deh tidak ada tugas. Lagian kenapa kamu Tanya soal tugas?” Tanyaku yang kini sibuk melahap ayam goring buatan Bi Sumi. “Wah, ayamnya enak banget nih. Gurih lagi!” Celetukku mengomentari ayam goreng Bi Sumi yang kebetulan rasanya cocok di lidah.

“Yaah…Cuma heran aja. Kok bisa-bisanya itu guru tak kasih kita tugas lagi. Biasanya itu guru doyan banget cecarin kita tugas.” Kata Tomi kini menyuapkan daging ayam kemulutnya.

“Mungkin saja itu guru lagi pingin kasih kita nafas. Biar nggak ada yang protes.” Kataku yang kini memotong tempe goreng dan tahu goreng menjadi kecil-kecil. Setelah itu aku memotong ayam goreng buatan Bi Sumi menjadi kecil-kecil di piring. “Biasanya juga kamu sering banget pinjam tugasku.” Keluhku kepada Tomi.

Suara sunyi diantara kami tercipta kembali. Hanya saja kali ini ditambah dengan suara piring dan sendok yang beradu ditambah dengan suara anak-anak yang gaduh membahas sesuatu hal yang bagiku tidak penting.
“Hei Tomi, Lely. Kalian kok duduk Cuma berdua? Biar kami temani, ya kan jo?” Suara Neni menghancurkan suasana sunyi diantara kami. Parkijo kini duduk berhadapan dengan Tomi, sedangkan aku berhadapan dengan Neni.


“Hei, bro iller. Gimana dengan transaksi hatimu? Sepertinya ada yang terkena kudeta nih. Tenang saja, nanti saya gajiin mbak Muhidin selama kontroversi hati tidak berkecimpung dalam melodi.” Kata Parkijo kumat.

“Ampun dah kamu ini, nen. Kenapa kamu bawa raja mabok kemari?” Tanyaku mengeluh walaupun aku Cuma bisa berkata, ‘anak ini maboknya sudah kelewat akut nih!’ dalam hati.

“Biarin, masalah buat lu?” Tanyanya sambil meletin dikit lidahnya.
Sialan lu, nen. Entar kubalas baru tau rasa! Keluhku sambil melahap sisa daging ayam Bi Sumi.
*****


“Tom, kamu tadi tidak terganggu apa sama si Parkijo?” Tanyaku ketika kami sedang berjalan bersama-sama ke kelas.

“Tidak
, tuh. Tadi aku berhasil bikin Parkijo jadi jinak sedikit.” Kata Tomi sambil membuat tangannya menjadi bantal buat kepalanya.

“Wah, hebat banget dong. Memang tadi kamu bikin Parkijo jadi apa? Terus berapa lama?” Cecarku.

“Cuma ajakin dia supaya dia mau minum baygon.”
 Jawabnya dengan nada bercanda.

“Minum baygon? Yang ada itu anak bisa masuk kuburan lagi.” Kataku sambil 
terkekeh.

“Mana mungkin lah dia kusuruh minum baygon? Entar aku dituntut masuk penjara lagi.”

“Hahaha… Bisa aja kamu, Tom!” Kataku yang kini pukul dikit pundaknya.

“Eh, udah dong! Lama-lama pundakku bisa tak berbentuk lagi, lho!” Kata Tomi dengan nada sedikit bercanda.

“Biarin! Salah sendiri bilang pukulanku keras! Memang sekeras mana dibanding ibumu?” Tanyaku karena diam-diam tante Mira suka cerita tentang Tomi kepadaku
 mengenai apa yang dilakukan oleh Tomi, walaupun tidak semuanya, sih.


Tomi tidak berbicara lagi. Tiba-tiba saja suara bel berdentang.

“Wah, sudah waktunya masuk kelas! Ayo, lel.” Kata Tomi
 yang langsung saja kuikuti langkahnya.
*****


“Dadaahh, tomingse! Nanti kita beli baygon rasa stroberi campur minyak top 1 ya!” Kata Parkijo yang ditimpali olehku dengan kalimat, “Anak itu pasti lupa minum obat lagi!”

“Sampai nanti, lely. Nanti kerumahku untuk bahas tugas ya!” Kata Neni mengejutkanku.

“Tugas apa?” Tanyaku karena aku agak lupa.

“Ya ampun, kamu ini dari tadi mikir apaan sih? Emangnya kata-kata pak Tobias tidak kamu dengerin?” Tanya Neni yang kubalas dengan gelengan kepala karena tadi aku hanya memikirkan Tomi.

“Makanya, lain kali jiwanya dikumpulin sama badan! Biar tidak digondol setan.” Kata Neni. Kemudian, ia berkata, “Tadi itu ada tugas buat minggu depan. Tugasnya dikerjain bareng teman sekelas.”

“Oh, iya. Tadi aku sempat dengar. Tapi tidak terlalu jelas.” Kataku ngeles.

“Ya udah, jam berapa nanti kerumahku?” Tanya Neni.

“Ya.. nanti ku kasih kabar ya lewat pesan?” Kataku sambil mengeluarkan telepon genggam milikku sambil memeriksa ada pesan atau tidak.

“Oke, deh. Sampai nanti, ratu melamun-yang-tak-jelas-ngelamunin-apaan.” Katanya sambil melarikan diri dari tanganku
.

“Tom, kita barengan aja jalannya ya!” Kataku kepada Tomi ketika Tomi baru saja melangkahkan kakinya meninggalkan kelas.

“Ya, ayo.” Katanya lalu segera saja aku berjalan mengikutinya.


Diperjalanan kami bercerita banyak hal seputar kejadian yang kami alami tadi disekolahan. Tiba-tiba saja Tomi berkata, “Lel, kamu tau tidak. Waktu kamu cerita soal masa lalu, aku jadi punya pertanyaan nih.”
“Pertanyaan apaan?” Tanyaku ingin tahu.

“Iya, tadi katanya kamu punya sesuatu hal yang kamu omongin. Apa itu?” Aku langsung ingat apa maksud Tomi sebelumnya. Yaitu ketika aku lagi berjalan bersama dia sepanjang perjalanan menuju kelas setelah makan siang.


Tiba-tiba saja aku hanya melamun sambil memikirkan kalimat yang tepat karena Tomi sekarang berkata dengan sungguh-sungguh.

Kemudian aku berkata dengan pelan, “Eenngg…itu..kamu pernah bilang kalau kamu itu pernah ketemu makhluk gaib.” Aku tidak langsung melanjutkan.

“Iya, terus?” Tanya Tomi agak sedikit mendesak.

“Terus, aku berpikir apakah kamu masih didatangi sama itu makhluk? Maksudnya apakah kamu itu punya makhluk buat mengusirnya” Tiba-tiba saja suara sunyi tercipta.


“Dahulu kupikir kamu itu walaupun cewek, tapi masih bisa menjaga feminin. Kok malah jadi tomboy macam sekarang ini? Apa karena dulu kamu tak punya teman, jadinya begini?” Tanya Tomi tiba-tiba membelokkan perbincangan.

“Ya jelas saja tidak lah, Tom. Memangnya kamu lupa siapa saja temanku dahulu? Mulai dari lucy, angelina, sampai monica. Bukannya mereka itu sampai sekarang malah feminin.” Jelasku membela diri, padahal bagiku sebenarnya karena aku diam-diam menaruh hati kepada Tomilah sehingga aku berubah menjadi tomboy.


“Yakin teman-temanmu masih ingat kamu?” Tomi bertanya membuatku menjadi agak gugup.
“Ya masihlah. Buktinya aja kemarin aku sempat telponan sama si Monika.” Kataku yang kini mengambil handphone, namun Tomi mencegahnya dengan memegang tanganku secara cepat.

“Sudah. Aku percaya kok sama kamu.” Katanya membuatku jadi semakin gugup.

“Tom, lepasin dong! Kan jadi canggung, nih. Lagian kita bukan sedang syuting, kan?” Kataku mencoba mencairkan suasana yang kini malah seperti film-film remaja yang biasa kutonton.

“Idiiih…ternyata Lely pecinta sinetron, ya.” Kata Tomi yang kini kusambut dengan pukulan di bahunya.
*****
Hari demi hari telah berlalu, namun aku masih belum bisa bercerita maupun mendapatkan jawaban akan keanehan yang terjadi di keluarga Tomi. Aku merasa setiap kali aku berusaha untuk memancing Tomi untuk menjelaskan masalah dalam keluarganya, aku selalu saja menemukan kekecewaan dikarenakan Tomi tidak berkata secara terus terang. Namun pada suatu hari aku akhirnya menemukan sebuah jawaban yang cukup memuaskan.


Jadi ceritanya saat itu aku dan Tomi bersama-sama mencari tugas yang berhubungan dengan kehidupan alam. Awalnya aku sempat mengajak Tomi ikut bersama mencari, namun tante Mira malah berkata, “Kalau kalian mau mencari untuk tugas, kenapa kalian tidak menggunakan gudang belakang?”

“Gudang belakang?” Tanyaku bingung.

“Iya, gudang belakang. Soalnya tante punya sumber inspirasi buat kalian. Malah kalian tidak perlu repot-repot pula, karena tante tahu kalau kalian yang buat, pasti tidak cukup sumber rujukkannya, kan?”


Tomi awalnya sempat ragu, namun aku sempat melihat raut mukanya yang begitu berseri meskipun hanya sesaat. Setelah kami berpamitan kepada tante Mira beserta kunci yang kini aku pegang(entah kenapa bukan Tomi yang diberikan, melainkan aku), Tomi berkata, “Akhirnya, selama 7 tahun aku tidak boleh masuk kedalamnya, kini terwujud.”

“Maksudmu, Tom?” Tanyaku masih belum mengerti maksud anak ini.

“Ehm..enngg…” Tomi seperti tidak menyebutkan. Namun, berkat usahaku untuk mendesaknya, Tomi menjelaskan, “Jadi, ceritanya begini, Lel…”

“Aku selama ini walaupun sering membantu tante Mira, tetapi ada satu tempat yang dilarang, yaitu gudang belakang. Setiap hari selama aku waktu masih kecil, aku berusaha masuk. Namun aku selalu saja tidak bisa, dikarenakan tante Mira membuat sesuatu hal yang menjadikanku tidak bisa masuk.”

“Maksudmu kunci gudang itu dipegang oleh tantemu?” Tanyaku melengkapi.

“Itu salah satunya. Pernah suatu ketika saat aku mencoba masuk, aku tidak bisa karena pintunya tertutup dan ketika aku mau buka, aku merasa tante Mira sudah dekat. Jadinya aku kembali bersembunyi agar tidak dimarahi.”

“Terus, tantemu itu pernah bercerita tentang isi dalam gudang itu?”

“Tidak.”

“Bahkan kamu pernah bertanya kenapa tidak boleh?” Tanyaku memberikan pilihan jawaban kepada Tomi.

“Seperti yang tadi aku ceritakan, tante Mira tidak mengijinkan. Kalau tidak diijinkan, pasti ada sesuatu hal yang terlarang untuk dijelaskan.” Kata Tomi yang kini tengah memegang kunci gudang yang tadi aku pegang. Tomi memandang dan melihat secara seksama, bagaikan melihat sebuah benda yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tak terasa kami sudah berada didepan gudang yang terletak diujung kebun belakang. Tomi tengah membuka gudang, ketika aku berkeliling untuk melihat sekitar. Aku mengamati dan menyatakan bahwa setidaknya gudang itu cukup besar untuk ukuran gudang pada umumnya. Setelah Tomi membuka gudang, aku melihat bahwa gudang itu ternyata berisi barang-barang yang biasa ada pada gudang yang biasa aku lihat. Namun setelah aku pandangi sejenak, gudang itu ternyata disusun dan dirawat dengan baik. Bahkan aku berani bilang, bahwa gudang itu seperti tempat belanja di supermarket atau mal besar. Namun yang ini hanya berisi barang-barang bekas tak berguna.
Saat kami melangkah berjalan beberapa langkah setelah melewati pintu utama, kami melihat adanya tulisan yang berisi tempat barang yang kami cari yang terletak diatas langit-langit gudang, mirip dengan ketika kau berjalan ke suatu mal ataupun supermarket, lalu kau melihat ada tulisan letak sebuah barang yang tepat berada diatasnya.
Aku dan Tomi tidak buang waktu. Kami langsung mencari letak dimana tersedia buku-buku untuk tugas yang kami cari. Ketika kami sampai, mataku tertuju kepada kumpulan foto-foto yang terletak 2 blok dari kumpulan buku-buku dimana kami memerlukannya untuk tugas. Yang membuatku tidak banyak bertanya adalah, foto-foto itu beberapa terkumpul dalam sebuah bingkai, dan sisanya berada didalam album. Aku memperhatikan beberapa foto yang ada. Namun karena aku tidak punya banyak waktu(selain nanti menimbulkan kecurigaan kepada Tomi karena aku terlalu lama berada di tempat tersebut), aku mengambil sebuah foto yang dimana terdapat seorang lelaki(yang aku kira itu adalah suami tante Mira) dan tante Mira yang tengah menggendong bayi yang tidak bisa aku lihat wajahnya.
*****
Malamnya aku kembali melihat foto tersebut setelah selesai mengerjakan beberapa tugas yang tadi aku kerjakan bersama Tomi. Aku memandang kembali foto tersebut, lalu aku mengamati secara seksama. Tante Mira beserta suaminya tampak bahagia dengan latar belakang pepohonan yang cukup rimbun. Aku memandang juga bayi yang digendong oleh tante Mira. Aku berusaha untuk melihat, siapakah bayi yang dipegang oleh tante Mira, namun aku hanya bisa melihat sebagian dari wajahnya. Namun karena malam sudah semakin larut, akhirnya aku putuskan untuk menyimpannya didalam baju yang nantinya akan aku kenakan untuk bertemu dengan tante Mira. Lalu setelah itu aku langsung berbaring dan selanjutnya terlelap dalam kesunyian malam.
Karena terlalu memikirkan foto tersebut, aku bermimpi seolah-olah aku berada di tempat dimana Mira beserta suami dan bayi yang digendongnya berada. Kemudian aku melihat suami Mira bercakap-cakap dengan Mira. Sesekali mereka tampak bahagia.
Yang lebih mengejutkan, tiba-tiba saja sepasang kekasih tersebut mendatangiku. Ternyata mereka berkata dengan orang yang berada tepat dibelakangku. Mereka bercakap-cakap dengan cepatnya dan dengan bahasa yang tidak bisa kumengerti. Tiba-tiba saja mereka tersenyum sambil memperlihatkan bayi yang digendong oleh tante Mira. Belum sempat aku melihat secara seutuhnya, tiba-tiba saja suara jam weker membangunkanku dari mimpi.
“Dasar jam weker sialan.” Dumelku sambil mematikan bunyi dari jam weker yang tengah kupasang. Aku hanya bisa menghela nafas sambil berharap semoga nanti bisa bertemu dengan tante Mira untuk melepaskan kabut yang selama ini hinggap dalam benakku.
*****


“Sore, tante.” Sapaku ketika aku melihat tante Mira berada didepan rumahnya. Saat itu tante Mira sedang menyiram tanaman.

“Eeh, Lely. Sore juga.” Katanya sambil kembali menyiram tanaman.

“Tante, itu tante siramnya pake apaan sih? Bukan teh basi, kan?” Tanyaku karena kadang tante Mira suka melakukan hal yang bisa kubilang berbeda dengan orang biasa.

“Kok kamu tahu sih kalau tante sedang menyiram tanaman pake teh basi?” Tanyanya yang kali ini kubalas dengan helaan singkat.

“Eh, iya tante. Apakah tante tahu, ini siapa?” Tanyaku ketika aku sodorkan foto yang kemarin aku ambil.


Langsung saja tante Mira menghentikan kegiatannya seraya berkata, “kamu ambil di letak kumpulan foto ya?” Kupikir tante Mira akan merebut foto yang aku ambil. Awalnya aku mengira bahwa tante Mira akan marah dan mengusirku. Namun ternyata tante Mira berkata, “Ternyata kamu tidak bikin tante kecewa.”

“Ha? Maksud tante?” Tanyaku setengah tidak percaya.

“Iya. Jadi tante sengaja memberikan kunci gudang itu kemarin padamu karena tante mau bercerita.” Katanyanya sambil duduk di balkon samping rumah.
Lalu aku diajak duduk sembari mendengarkan kisah rahasia Tomi. Awalnya aku sempat kaget. Namun aku tidak mau membuat tante Mira jadi kecewa dan akan membatalkan niatnya untuk bercerita. Aku mendengarkan kembali secara seksama. Setelah itu aku hanya Cuma bisa terdiam membisu sambil melihat beberapa tanaman yang baru saja tante Mira siram.


“Itulah sebabnya kenapa Tomi tidak boleh mendekati gudang itu, melainkan dengan ijinmu. Karena tante percaya bahwa kamu akan bisa membantu dia kedepannya.” Lanjutnya.

“Dan satu lagi. Selama ini mungkin dia bakalan kecewa berat bila ia mendengarkan ini kalo melalui tante. Makanya, dengan kamu yang tahu rahasia ini, maka tante menggangap, kalo seandainya tante tidak bisa menyampaikannya dikarenakan sesuatu hal…” Tante Mira tidak berbicara. Akupun berusaha untuk berbicara, namun aku hanya bisa berkata dengan gumaman tanpa suara. Kemudian tante Mira melanjutkan, “Tante harap kamu bisa menjelaskan kepadanya mengenai hal ini. Tante percaya bahwa kamu adalah orang yang bisa tante percaya.” Aku hanya bisa menatap tante Mira.

“Dan lagi, tante semakin percaya dikarenakan kamu adalah orang yang sudah mengetahui suatu hal, namun kamu tidak membicarakannya secara langsung, melainkan membiarkannya, tetapi kamu tidak lupa. Maka dengan ini, tante harap, tante bisa membantu menghilangkan pertanyaan dalam benakmu, Lely.” Katanya mengakhiri pembicaraan yang bisa kubilang, cukup berat dan menegangkan.
Akhirnya selama ini kabut yang menyelubungi benakku perlahan memudar, bahkan bisa kukatakan sudah menipis. Dan kini aku semakin yakin untuk menjaga dan menjadi kawan baik Tomi untuk kini dan nanti.





Bersambung
 ------
Cerita ini pernah dimuat di Kompasiana dengan judul [Cerbung] Manusia Aneh: Rahasia Keluarga Tomi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar